Hampir disemua perempatan jalan atau lampu lalu lintas di kota besar diwarnai oleh pengemis. Mereka bisa jadi anak kecil, orang cacat atau orang tua. Anak kecil yang masa-masa diusia mereka sepantasnya menikmati masa bermain dan merdeka sebagai anak, tapi hampir keseharian mereka dihabiskan di tengah jalan. Menikmati keramaian kota, kepulan asap, hiruk pikuk kendaraan, bertemu berjuta orang dengan bermacam-macam watak dan perangai. Mereka tidak tahu kenapa harus berada disitu, bisa jadi mereka ikut orang tua, bisa jadi dipaksa orang, bisa jadi keterpaksaan oleh situasi.
Selain anak kecil bisa kita saksikan orang cacat, cacat karena tidak bisa melihat atau karena salah satu anggota badanya yang cacat atau cacat karena penyakit. Mereka menjajakan kecacatan mereka untuk mendapat sesuatu yang bisa dimakan atau dikumpulkan.
Ada pula yang berada diperempatan adalah orang-orang tua. Yang karena kondisi mereka harusnya berkumpul dengan anak cucu mereka terpaksa harus di jalanan. Menghirup udara pagi bercampur asap kendaraan, menikmati panas terik matahari sambil berdesak-desakan diantara motor dan mobil. Dan disore hari mereka telah bermandikan keringat dan debu jalanan yang mereka rasakan hampir setiap hari.
Keberadaan mereka dijalanan sudah memakan waktu yang cukup lama, kalau kita melewati jalan atau perempatan yang sama kita akan menjadi tahu bahwa merekapun sudah lama ada disitu. Mulai mereka gadis kecil, kemudian hamil sampai menggendong anak kecil kembali. Apa yang menjadikan mereka betah disitu ¿ Satu jawaban yang mungkin bisa mereka katakan adalah mudah mendapatkan uang untuk menjadi hidup. Tanpa modal yang besar hanya nekat dan keterpaksaan mereka akhirnya harus menjalani.
Pagi-pagi setelah mereka istirahat pada sore atau malam harinya. Mereka mulai menjalani hari-harinya dengan mengemis. Mulai dari pagi mereka hanya menjalankan kebiasaannya mengangkat tangan meminta belas kasihan para pengendara yang lewat dan suatu keberuntungan adalah mereka mendapatkan uang dari pengendara. Sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit. Uang yang terkumpul mulai pagi ketemu siang dan akhirnya sore hari, sendikit demi sedikit akhirnya terkumpul menjadi bukit. Yang pasti mereka akan memulai lagi pada esok harinya. Yach mereka tidak perlu modal besar hanya nekat dan keterpaksaan yang mereka miliki.
Alasan mengapa mereka melakukan itu semua ¿ Bisa jadi banyak alasan dan sebab, yang perlu dicari akar penyebabnya dan ditemukan jawabannya. Tapi untuk menjawab itu sepertinya bukanlah pekerjaan mudah. Butuh program atau langkah yang besar yang matang, butuh modal yang cukup besar, butuh keseriusan, komitmen dan juga kebersamaan. Tapi bisa jadi analisa lain juga banyak yang dapat dijadikan alasan.
Yang jelas dengan adanya pengemis di jalanan adalah pekerjaan besar buat kita semua. Jawaban yang sederhana adalah masih adanya kemiskinan. Kemiskinan berupa materi dan juga moral. Untuk mengatasi kemiskinan adalah pekerjaan besar. Tugas siapa ¿ Kemiskinan adalah masalah kemanusiaan dan kita semua adalah mendapat tugas untuk mengurangi kemiskinanan tersebut. Dan secara kenegaraan adalah tugas pemerintah.
Sebagai jawaban yang mungkin tidak pas atau terlalu sederhana untuk penanggulangan kemiskinan adalah jawaban kita sejauh mana kita mengurangi kemiskinan tersebut. Kita disini bisa jadi sebagai dosen, bisa jadi seorang birokrat, bisa jadi seorang pengusaha, bisa jadi siapapun yang bisa berbuat sesuatu. Mulai dari sendiri, keluarga terdekat, saudara, tetangga atau lingkungan terdekat kita. Mulai berbuat hal kecil tapi bermanfaat, tidak terlalu rumit. Dan mulai dari Sekarang.
31 Desember, 2008 pukul 10:14 am
test